Baja Domestik Tumbuh
Hidayat menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan pada acara First Heating Coke Oven Plant PT Krakatau Posco. Hadir pula pada kesempatan tersebut, antara lain, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, perwakilan Duta Besar Korea Selatan di Indonesia, jajaran manajemen PT Krakatau Steel dan PT Krakatau Posco, serta Wali Kota Cilegon Tb Iman Ariyadi.Hidayat menuturkan, daya tarik investasi industri logam dasar, antara lain, berupa insentif fiskal, yakni fasilitas pajak dan kelonggaran pajak. Selain itu juga pembebasan bea masuk atas impor mesin serta barang dan bahan untuk pembangunan atau pengembangan industri dalam rangka penanaman modal.
Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan perlindungan berupa SNI wajib, pengamanan, antidumping, dan mekanisme pengendalian impor. Pelaksanaan Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia pun mendorong terjadinya kebutuhan produk baja.
”Upaya pemerintah tersebut setidaknya berhasil menarik sembilan investor industri logam dasar dengan total nilai investasi 13,3 miliar dollar AS,” kata Hidayat.
Beroperasinya PT Krakatau Posco diharapkan memberikan nilai tambah tinggi, yakni berupa tumbuhnya industri perkapalan, infrastruktur, permesinan, dan lain-lain.
Kurangi impor
Investasi tahap pertama dengan nilai 3 miliar dollar AS, PT Krakatau Posco akan memproduksi sekitar 3 juta ton baja per tahun. Produksi ini akan ditingkatkan menjadi 6 juta ton per tahun pada tahap berikutnya.
”Produksi 3 juta ton baja pada akhir tahun ini akan bisa mengurangi impor kita,” ungkap Hidayat.
Kegiatan pemanasan awal merupakan tahapan penting di pabrik oven kokas PT Krakatau Posco yang memproses batubara menjadi kokas. Pabrik akan bisa dioperasikan begitu selesai pemanasan awal yang dilaksanakan selama tiga bulan.
Plant Manager PT Krakatau Posco Lee Sang Dong menuturkan, biaya investasi di proyek kokas tersebut mencapai 357 juta dollar AS dengan produksi kokas per tahun sebanyak 1,3 juta ton. (CAS)